Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

Think And Grow Rich by: Napoleon Hill

Buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1937 ini, merupakan buku tentang bagaimana memotivasi diri dan melakukan pengembangan diri, yang terinspirasi dari seorang pengusaha Amerika bernama Andrew Carnegie. Pada masa awal diterbitkannya, buku ini hanya dicetak sebanyak 5.000 kopi saja. Tak disangka, kalau ternyata promosi terhadap buku ini justru datang dari mulut ke mulut, yang kemudian menjadikan 5000 kopi itu terjual hanya dalam enam minggu. Setelah itu permintaan terhadapnya semakin banyak yang kemudian memaksa penerbit untuk kembali mencetaknya. Cetakan kedua dicetak sebanyak 10.000 kopi, dan sama seperti sebelumnya, semua terjual hanya dalam enam minggu. 
Pernah buku ini mengalami revisi pada tahun 2004 yang diterbitkan dengan judul Think and Grow Rich: The 21st-Century Edition: Revised and Updated, yang coba untuk disesuaikan dengan perubahan masyarakat. Namun kemudian ternyata buku hasil revisi tersebut tidak bisa lebih memuaskan dibandingkan versi aslinya. Pada tahun yang sama, versi orisinil dari buku karya Napoleon Hill tersebut diterbitkan ulang hingga sekarang, dan pembacanya adalah mereka yang saat ini cukup dikenali sebagai orang-orang sukses dunia. Buku yang layak dibaca oleh mereka yang sedang ingin memotivasi diri untuk bisa lebih maju...
SELAMAT MEMBACA.

Novel Dwilogi Andrea Hirata, Padang Bulan & Cinta di dalam Gelas

Jika dikatakan bahwa novel ini (dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas) untuk mejawab rasa penasaran sebagian besar pembaca karena kisah di dalam Maryamah Karpov tidak tuntas memang ada benarnya. Novel kedua yang berjudul Cinta di Dalam Gelas menurutku justeru lebih pantas diberi judul tersebut. Di novel inilah sepak terjang Maryamah digambarkan dengan jelas bukan hanya sekilas seperti dalam Maryamah Karpov.

Jika dibandingkan dengan tetralogi sebelumnya, dwilogi ini terasa lebih nakal. Andrea membebaskan dirinya untuk bermain-main dengan bahasa yang lebih berani. Ini bisa dimaklumi mengingat spirit awal penulisan tetralogi Laskar Pelangi adalah sebagi persembahan kepada guru tercinta mereka Bu Muslimah. Sedangkan dwilogi ini sepertinya memanfaakan momentum dan latar Laskar Pelangi sebagai dasar cerita saja sehingga Andrea memiliki sedikit beban moral untuk bersantun dalam bahasa.

Novel ini masih mengusung tema pergulatan seseorang yang tidak kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup. Dia yang sudah miskin secara struktural menjadi lebih terhimpit lagi ketika nasib tidak berpihak kepada dirinya. Ketika sandaran hidup mereka justru menginggalkan mereka maka dialah yang harus berjuang untuk melepaskan atau menahan himpitan kemiskinan tersebut.

Hebatnya diantara pergulatan melawan himpitan kemiskinan tersebut dia masih memiliki resolusi hidup atau semacam life list (hal-hal penting yang ingin mereka capai dalam hidup) yang justeru melampaui status/kondisi sosialnya. Bayangkan seorang penambang timah tradisional memiliki keinginan dan kegigihan yang tinggi untuk belajar Bahasa Inggris. Meskipun untuk itu dia harus menempuh jarak sejauh 100 km di akhir pekan ke tempat kursus.

Kesan yang mendalam dan mengaduk-aduk emosi justru kita temukan di awal, Mosaik 1 yang berjudul Lelaki Penyayang. Dari sebuah narasi menggelikan yang membuat kita terkekeh (terutama jika kita pernah menaksir lawan jenis di usia remaja) berakhir dengan tragedi menyedihkan yang mebuat mata kita berkaca-kaca. Kejutan yang seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi sebuah keluarga sederhana justeru berubah menjadi kejutan akibat malapetaka.

Kisah Enong (nama panggilam Maryamah) saja sebenarnya layak dijadikan tema sentral Padang Bulan. Sementara kisah cinta Ikal dangan A Ling justeru menjadikan novel ini terasa bertele-tele. Nampaknya Andrea hendak memuaskan pembacanya sekaligus. Pertama rasa penasaran pembaca tentang Maryamah. Yang kedua akhir dari kisah cinta Ikal dan A Ling.

Bagi mereka yang belum pernah membaca Laskar Pelangi beberapa bab/mosaik akan terasa membingungkan karena dia memakai alur balik. Beberapa bab/mosaik itu menceritakan saat-saat Ikal masih bersekolah di Sekolah Dasar.

Seperti yang dikatakan Andrea Hirata ini adalah novel kultural yang hendak memotret kehidupan orang Melayu (Belitong). Hal itu tergambar secara sempurna dalam novel kedua Cinta di Dalam Gelas. Orang Melayu yang memiliki budaya lisan sangat tinggi menemukan tempat yang pas untuk “melestarikan” budaya tersebut di warung kopi. Lihatlah bagaimana penasarannya seorang isteri tentang rasa kopi dari warung kopi yang katanya lebih enak dari kopi buatannya. Kemudian diam-diam dia membeli kopi dari warung kopi dan membawanya pulang dengan harapan suaminya tidak ngopi di warung. Tapi apa kata suaminya, kopi tersebut tidak seenak kopi buatan warung kopi.

Di novel kedua inilah Maryamah mendapatkan nama belakang Karpov karena memakai metode pertahanan permainan catur ala Anatoly Karpov. Maryamah memakai permainan catur sebagai medium perlawanan terhadap hegemoni atau kesewenang-wenangan beberapa orang (lelaki) terhadap dirinya di masa lalu. Kesewenang-wenangan yang mengakibatkan trauma berkepanjangan dalam hidupnya. Dengan kemenangan dari permainan catur itulah Maryamah mengusir trauma yang menghantui hidupnya sekian lama.

Dua buah novel yang digabung menjadi satu (bundling) terhitung sebagai hal baru bagi dunia buku Indonesia, setidaknya dalam kurun terakhir ini. Dengan harga 76.500 (toko buku) atau 65.025 (toko buku online) terbilang cukup murah untuk novel yang lumayan tebal ini (lebih tebal dari Laskar Pelangi).
 

Do The Work


"We'll hit every predictable Resistance Point along the way - those junctures where fear, self-sabotage, procrastination, self-doubt, and all those other demons we're all so familiar with can be counted on to strike", writes acclaimed author Steven Pressfield, in his inspirational guide to overcoming personal barriers Do The Work!. The author presents the tools and concepts that helped in his personal quest to achieve his goals despite the constant challenge from internal resistance and obstacles.

Steven Pressfield understands that overcoming the inner voices of objection to doing the work necessary to complete a task is critical for success. As a renowned, bestselling author, Steven Pressfield would appear the very epitome of someone who lacked personal demons blocking his creative flow of words. Instead, as he describes in this motivational text, even the most prolific writers are accosted by the self-doubts and inner conflicts shared by everyone. What the author refers to as a chattering brain is that inner dialogue that operates to sabotage even the best planned projects. As a result, Steven Pressfield offers the tools and techniques that propelled him past the barricades to performing the job at hand.



Steven Pressfield (photo left) provides a veritable manifesto against those darkness of the soul moments when the brain chatter is at its most prevalent. In this deceptively simple books, the author shares the strategies he employed to beat back the resistance and negative thoughts that stand in the way of greatness. Steven Pressfield identifies the traits of that arch foe resistance, its characteristics, and its means of attack. In opposition to these forces of darkness, the author presents his allies, strategies, and inner strength builders to succumb the ever present foe. Steven Pressfield outlines the lay of the land, the nature of the treacherous enemy and its habits, and then shares his proven tactics for winning the battle within. Part personal journey, part tactics and strategies, and part helpful stories and anecdotes, the book is a treasure chest of ideas and inspirational concepts to achieve the very best from work and life.

For me, the power of the book is how master writer Steven Pressfield transforms the concept of inner obstacles into a guide to success. Through a powerful combination of personal stories and revelations, the author shares his own vulnerability and his own inner trials openly and honestly. At the same time, Steven Pressfield discovers universal truths, of the common resistance that afflicts everyone, and how to surpass their tantalizing pull downward. By adding additional examples from various walks of life and works of literature, the author clarifies his concepts and strengthens their value. Whether a person is a writer, artist, entrepreneur, or manager, the constant nagging of that confidence shattering inner conversation, the strategies contained in this engaging book offer wisdom and the motivation to do the work.

I highly recommend the idea packed and insightful book Do The Work! by Steven Pressfield, to anyone seeking to overcome the artificial and soul destroying doubts that attach themselves to our deepest thoughts. This book will dispel those unfounded fears, and steer us toward the stars.

Read the enjoyable and profound book Do The Work! by Steven Pressfield, and learn how to reach your destiny through doing the work necessary to achieve greatness. This book is a compass to keep your course straight and true as you embark on that most important voyage to personal success.