Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

21 Fakta Menarik Tentang Indonesia Di Dunia Internasional

PT. PAL sukses membuat salah satu kapal terbaik di dunia "Star 50" berbobot 50,000 ton. Salah satu Negara yang memesan kapal ini adalah Singapura.

Di Singapura gamelan jadi mata pelajaran wajib di sekolah dasar pada hampir sebagian wilayahnya.

Pabrik/manufaktur Mattel (boneka Barbie USA) hanya ada dua di dunia. Pabrik pertama berada di China dan lainnya di Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. 

Brand internasional yang amat prestisius, Gucci, menggunakan kain tenun asli Indonesia sebagai bahan bakunya. 

Mobil terpopuler di Uni Emirat Arab adalah Toyota Kijang Innova yang sepenuhnya diproduksi di Indonesia. 

Bunga nasional Korea Utara yang amat popular Kimilsungia berasal dari Indonesia dan diberi nama oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno. 

Tahukah Anda, Airbridge –tangga belalai menuju pintu pesawat yang ngetrend di bandara- bandara dunia kali pertama dibuat oleh PT Bukaka, Indonesia. 
Pejuang HAM legendaris dan bapak pembebasan Negara Afrika Selatan Nelson Mandela, setelah berhasil menghapus Apartheid di negerinya, mengakui bahwa perjuangannya itu diinspirasikan oleh perjuangan Syekh Yusuf dari Makassar.
Tahun 2002, dalam Special Edition TIME Magazine on Asian Heroes, penyanyi Iwan Fals menjadi cover fullpage. Begitu juga dengan Aa Gym di tahun 2006 (The Holy Quran)
Mobil prestisius, Mercedes Benz, menggunakan knalpot buatan Indonesia, yang pengerjaannya sepenuhnya dilakukan di Purbalingga, Jawa Tengah.






Presiden RI ke-3, BJ Habibie adalah pemegang 46 paten di bidang aeronautika dunia.










David Foster mengaku, lagu ciptaanya 'To Love You More' yang dibawakan Celine Dion terinspirasi dari musik Keroncong yang berasal dari Indonesia.


Menara Kuala Lumpur ternyata di dirancang oleh putra Indonesia, Ir.Achmad Murdijat alumni ITB










Indofood merupakan produsen mie instan terbesar di dunia 

Tas Bagteria made in Indonesia telah dijajakan di berbagai etalase di mall-mall kelas atas di 32 negara di seluruh penjuru dunia. Public figure dunia yang mengenakan produk ini antara lain Paris Hilton, Zara Phillips, Emma Thomson, dan Audrey Tatou.





Tiga jenis kopi andalan Starbucks di Seattle, AS, adalah: Sumatera, Java Mocha dan Toraja Coffee. Ketiga jenis kopi ini dipajang di etalase paling depan.





Koin Ringgit Malaysia dan passport Malaysia adalah produksi PT PERURI

Seragam serdadu NATO diproduksi oleh PT Sritex, Solo, Jawa Tengah

Kacang dua kelinci (PT Dua Kelinci), menjadi sponsor Real Madrid.




Motor GP, Produsen Honda menggunakan jargon ”One Heart” (Honda Indonesia) yang terpasang di motor balapnya, Yamaha juga membubuhi jargon ”Semakin di Depan” di baju balapnya. Walaupun motor jepang tapi Semua produksinya dilakukan di indonesia..




Stadion Gelora Bung Karno merupakan stadion terbesar ke-2 di Asia.


Indonesia sudah sebegitu besarnya di mata Internasional......Tinggal sekarang bagaimana rakyatnya untuk  terus lebih maju...tak perlu mengandalkan dan menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah. Beberapa contoh di atas menunjukkan kemandirian dari masing-masing kita untuk maju juga dapat berimbas pada keharuman nama bangsa. "You dont need to trust the goverment, to believe in your country".....-George W. Bush in Haold and Kumar: Escape from Guantamo Bay -

Senin, 16 Mei 2011

Wisata Pulau Tidung

Awal dateng ke Tidung sih ga begitu tertarik (maaf nih buat EO dan sponsornya, hehe..), karena ketika kapal berlabuh di dermaga, ga ada pantai yang bisa dilihat sama sekali. Ketika berjalan masuk ke dalam pulau juga yang dirasakan hanya seperti berada di salah satu perkampungan di Jakarta, tak ada rasa yang istimewa. 

Aktivitas di sana hanya diawali dengan makan dan istirahat. Cukup melelahkan juga karena untuk bisa mendapatkan kapal penyeberang dengan waktu yang cukup baik, harus mengantri di depan loket di Marina Ancol dari jam 4 pagi. Padahal loket baru dibuka jam 6 pagi. Tapi ternyata memang harus demikian, karena kalau tidak datang dari jam 4, wah...ga kebayang mau antri sampai jam berapa dan bakalan ga dapat tiket nyebrang. Karena pada saat loket dibuka, antrian sudah cukup panjang, dan karena kami bisa datang jam 4 pagi dan mulai mengantri dengan menaruh semua barang bawaan di depan loket, jadinya bisa mendapatkan tiket untuk pemberangkatan pertama. 

Setelah istirahat di sebuah saung dekat laut (tanpa pantai), kita dibawa sedikit berolahraga dengan sepeda menuju tempat penginapan. Tapi jangan berharap untuk mendapat tempat menginap seperti hotel atau cottage. Tempat menginapnya lebih seperti kamar kos, tapi dengan AC (bersyukur banget kalau bisa mendapatkan yang AC). Tak banyak waktu untuk istirahat, sudah waktunya untuk makan siang dan dilanjutkan dengan snorkeling. Cukup penasaran akan seperti apa pemandangan laut yang ada disekitar pulau yang tidak memancarkan keindahan sedikitpun (saat itu). Yang menjadi pembimbing snorkeling saat itu adalah ketua RW setempat, yang memang memiliki usaha penyewaan alat-alat snorkeling, dan sepertinya juga hobbi menyelam. Kami di bawa ke tiga 'snorkeling spot' oleh bapak yang sangat ramah dan cukup hangat dalam berinteraksi ini. Tak seperti yang dibayangkan, ternyata pemandangan bawah laut yang ditunjukkan sangat indah. Karang-karang laut yang terbentang dengan berbagai jenis yang saya juga tidak tahu namanya, serta ikan-ikan yang lalu lalang di bawah kita, benar-benar membuat betah untuk terus mengarahkan muka kita ke dalam laut. Ditambah kesabaran Pak RW dalam memberi instruksi, membuat suasana menjadi nyaman dan aman. Bahkan istri saya yang paling takut sama air, dan di awal selalu teriak-teriak ketakutan, lama kelamaan justru asyik sendiri. Sayangnya tak ada yang bawa kamera yang bisa ditenggelamkan ke dalam air untuk mengabadikan gambar dari bawah laut kepulauan seribu tersebut.

Tour Guide kami kala itu juga asyik sendiri mencari karang dan hewan-hewan laut untuk dibawa. Pak RW pun tak kalah unjuk pengetahuannya mengenai makhluk-makhluk laut, dengan mengambil beberapa dan memberitahukan nama-namanya. Bahkan tak segan Ia pegang Bulu Babi untuk ditunjukkan ke kami. Beberapa dari kami juga diajarkannya untuk meyelam ke bawah. Cukup menjadi hiburan yang menyenangkan. 

Hari itu diakhir dengan makan makanan laut hasil barbeque tour guide kami. 

Hari kedua, pagi-pagi setelah sarapan, kami di bawa ke tempat yang dikenal di pulau tidung sebagai Jembatan Cinta. Di sinilah baru kemudian terlihat keindahan pantai dan kejernihan laut pulau tidung. Keindahan itu pastinya mengundang banyak wisatawan. Keramaian di situ membuat kami tidak kebagian  'banana boat' dan 'kano'. Sepertinya untuk bisa mendapat antrian, harus sanggup datang dari subuh. Tapi keindahan laut dari Tidung cukup buat saya sebagai hiburan (salah satunya foto di atas, hasil jepretan sepupu istri saya). 

Pernah pada suatu waktu teman yang pernah berkunjung ke pulau tidung menceritakan tentang terjun dari atas jembatan cinta yang tak berani dilakoninya. Pada saat ke tidung, saya juga melihat ada beberapa orang yang mencoba untuk terjun dari atas jembatan yang berjarak kira-kira 9 meter dari permukaan laut. Laut di bawah jembatan terlihat dangkal, dengan warnanya yang hijau dan bayangan karang di dalamnya cukup menyeramkan, membayangkan kaki yang akan terbentur nantinya ketika terjun. Tapi melihat banyak dari mereka yang telah terjun ternyata baik-baik saja, justru semakin mengundang rasa penasaran untuk mencoba terjun. 

Akhirnya pun diputuskan bahwa saya akan mencoba terjun bersama dua orang sepupu. Ketika melihat bagian laut dibawah jembatan dari balik pagar jembatan, sepertinya biasa-biasa saja, tidak menakutkan sama sekali. Kemudian berubah drastis menjadi begitu menakutkan ketika berdiri diujung jembatan ketika siap untuk terjun. Selintas terpikir beginilah rasanya kalau ada orang yang mau bunuh diri dengan terjun dari ketinggian. Tapi justru dengan banyak berpikir dan berdoa, malah membuat jantung semakin berdegup kencang dan kaki merinding. Dengan cepat saya hilangkan pikiran itu semua dan langsung melangkahkan kaki ...terjuuuuunnnn......seketika suasana hening, hanya terdengar hembusan angin yang bergesek dengan telinga, dan yang dipikirkan hanyalah ..''kapan sampainya nih''...Byuuurrr....terceburlah saya ke dalam laut yang ternyata masih cukup dalam. Dua sepupu saya kemudian menyusul. Pengalaman yang cukup memacu adrenalin. Saya mencoba untuk yang kedua kalinya, dan berhasil lagi. Menurut saya di sinilah hiburan yang paling menyenangkan. Terasa benar-benar sedang berinteraksi langsung dengan alam. Lompatan ketiga saya batalkan, karena informasi dari tour guide kami yang mengajak kami untuk segera berkemas dan siap pulang karena kapal penyeberang sudah penuh dibooking, dan kami harus segera masuk antrian. 

Sangat disayangkan, kami terlambat untuk mendapatkan kapal penyeberang yang bisa menyeberangkan kami hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam. Pada akhirnya kami harus naik Kapal yang disebut istri saya sebagai Kapal odong-odong. Awalnya saya tidak begitu keberatan jika ternyata warga setempat agak 'memaksakan' supaya wisatawan yang akan menyeberang kembali ke Jakarta menggunakan Kapalnya, agar mereka juga dapat mengais rezeki dari situ. Namun kemudian saya sedikit mengutuk, karena dengan suasan kapal seperti kapal pengungsi, penuh sesak dan panas, 100 orang lebih dejejalkan dalam satu kapal, waktu tempuh hampir dua kali lipat, bikin badan keram dan kesemutan, namun harga tiketnya sama dengan kapal yang nyaman, hanya diisi 15 orang, dapat duduk tenang tanpa harus jadi pegal-pegal, waktu tempuh efisien, tak harus berdesakan dengan barang bawaan sendiri. Walaupun begitu kalau diingat bagaimana hiburan ketika di tidung, suasana kapal odong-odong bisa dilupakan, meskipun jadi agak kapok ke tidung lagi. Tapi hanya dengan Rp 350.000,00 nett, semua hiburan(termasuk snorkeling) dengan penginapan dan makanan enak bikinan warga setempat bisa didapat. Sangat murah jika dibanding dengan apa yang bisa didapatkan di Tidung.........

Sabtu, 07 Mei 2011

Tentang Indonesia

Di Indonesia terhampar pulau-pulau hingga mencapai 17,508 pulau dan hanya 6000 pulau yang berpenduduk. Menjadi pulau-pulau utamanya adalah Sumatera (473.6O6 km persegi), Kalimantan (1.539.400 km persegi), Sulawesi (189,216 km persegi), Papua (421.981 km persegi), dan Jawa (132.187 km persegi) yang menampung 70% penduduk Indonesia. 


Indonesia memiliki 583 bahasa dan dialek dari kurang lebih 300 suku bangsa, yang masing-masing memiliki adat istiadat, tarian, lagu, masakan, musik, alat musik, seni patung, pakaian, kesusastersaan, dan rumah adat yang berbeda-beda juga.


Indonesia memiliki kurang lebih 400 gunung berapi 128 diantaranya masih aktif, 75 telah meletus.


Ingin tahu lebih banyak, kunjungi http://www.indonesia-tourism.com

Jumat, 06 Mei 2011

Bambu 'Mistis'

Satu lagi kekayaan budaya Indonesia yang berbau mistis. Atraksi Bambu Gila/Buluh Gila atau Bara Suwen namanya, yang saat ini masih ditemukan di wilayah Maluku. Dari namanya sudah bisa ditebak kalau atraksi ini melibatkan tanaman bambu. Bambu yang dipergunakan biasanya memiliki panjang 2-3 meter dan diameter 8-10 cm.

Apa yang menjadi daya tarik dari permainan ini??...sekilas untuk sesaat, hanya terlihat sebuah pemandangan dimana satu bilah bambu dipegangi oleh sekitar tujuh pria. Namun pemandangan itu  kemudian berubah manakala bambu yang dipegangi itu seketika menjadi liar dan sulit untuk dikendalikan, dan kesaksian mereka yang ikut memegangi bambu tersebut merasakan bahwa bambu itu semakin berat. 

Sebelum permainan ini dimulai, ada seorang dukun yang meniupkan asap hasil pembakaran kemenyan di atas batok kelapa, ke arah buluh bambu, yang dipercaya akan mengundang arwah leluhur untuk singgah pada bambu yang akan dimainkan. Bahkan kegiatan ini pun dimintakan restu kepada para penunggu sekitar oleh sang dukun. Bambu pun dipersiapkan dengan telah dicuci dengan minyak kelapa dan dibungkus oleh kain dari ujung ke ujungnya. Kemudian sang pawang akan mengucapkan mantra dalam bahasa tradisional setempat, secara berulang-ulang mantra. Nuansa mistis kian terasa dan memuncak ketika sang pawang berseru kencang: Gila! Gila! Gila!

Atraksi pun dimulai dengan iringan musik. Mulailah para pria yang memegangi bambu itu seperti terlempar ke sana kemari, seperti si bambu ingin melepaskan diri. Kekuata dari si bambu 'mistis' itu semakin terasa kuat ketika alunan musik bertambah temponya, semakin cepat tempo yang dimainkan, semakin keras pula usaha para pemegang bambu untuk bertahan. Atraksi ini kemudian berakhir ketika ada seorang atau bahkan keseluruhan pria yang memegang bambu tersebut jatuh pingsan.

Saat ini, atraksi tersebut sudah dimodifikasi menjadi sebuah tarian yang melambangkan persatuan dan kesatuan serta semangat gotong royong. Ditunjukkan dengan kekompakan gerakan para penari yang memegang bambu yang sama.

Kopi Toraja Penuh Tradisi

KOPI Toraja telah melanglang hingga ke café-café ternama seantero dunia. Tana Toraja adalah sebuah kabupaten di pegunungan Sulawesi Selatan, berjarak 300 kilometer dari Makassar--  ibukota provinsi itu. Meski tak setenar Toraja, daerah-daerah di sekitarnya juga produsen kopi bermutu: Kalosi di Enrekang dan Mamasa.
Kopi Toraja sebagian besar ditanam di perkebunan kecil milik penduduk di lereng-lereng gunung. Orang Toraja dikenal karena mampu memelihara tradisi yang sudah berumur ratusan tahun. Salah satunya adalah upacara pemakaman Rambu Solo’ yang mengundang wisatawan dalam dan luar negeri. Sama seperti pesta-pesta adat yang ritualnya sudah berlangsung turun-temurun, proses pengolahan kopi juga melalui tradisi yang berumur ratusan tahun.
Perjalanan kopi ini hingga bisa go international juga telah melalui proses panjang. Pada awalnya Pemerintah Kolonial Belanda mengetahui keberadaan “harta karun” ini. Mereka sempat membuka perkebunan kopi seluas 300 hektar dan menamainya Kalosi Celebes Coffee. namun tidak berlanjut. Lalu, dengan masuknya Jepang di Indonesia, biji kopi ini sempat diperkenalkan ke negara itu.
Baru kemudian pada 1973, Hisashi Ohki –Wakil Presiden Direktur Kimura Coffee, sebuah perusahaan kopi Jepang -- datang ke Indonesia. Dia menapaktilasi daerah pedalaman Ballokan, Tana Toraja yang merupakan perkebunan kopi bekas peninggalan Belanda. Dia meyakini industri kopi Toraja akan bangkit kembali di dunia internasional jika prasarana di daerah itu dibenahi. Plus ada kerjasama dari masyarakat. Di tahap awal, Ohki membangun perkebunan kopi seluas seribu hektar di Pedamaran dan lima ratus hektar di Bollokan.
Pada 1976, terbentuklah PT Toarco Jaya, usaha kerjasama Jepang dan Indonesia, berpusat di Ujung Pandang, ibukota Sulawesi Selatan. Toarco kependekan dari Toraja Arabica Coffee. Dengan berdirinya usaha dua negara ini, maka dimulailah persemaian benih untuk rencana penanaman seratus hektar. Warga setempat pun direkrut untuk proyek ini.
Dua tahun kemudian, kopi Toarco Toraja mulai dipasarkan di Jepang. Tagline iklannya berbunyi: "Kopi misterius yang kini hidup kembali”. Penjualannya melebihi perkiraan. Dan bahkan sampai keluar Jepang.  Di daerah asalnya, panen kopi panen berangsur-angsur meningkat. Jumlah perkebunannya pun makin diperluas. Semula, seluruh proses dikerjakan oleh perusahaan: pemeliharaan, pemetikan, pemrosesan hingga pengiriman. Tujuannya untuk menjaga kestabilan mutu kopi. Selama ini, sudah banyak jenis kopi Toraja yang beredar di pasaran, namun belum ada standar mutu
Pada 1984, Pemerintah Indonesia meminta Toarco menyerahkan contoh biji kopi untuk dijadikan standar baku seluruh produsen kopi dalam negeri. Ini menjadi salah satu titik penting bagi peningkatan kualitas industri kopi Indonesia. Selama ini, kopi Toraja yang beredar belum melalui standarisasi mutu.
Jika sebelumnya Toarco hanya dibuat untuk konsumsi Jepang, maka pada 1995 kopi ini pun dijual di tanah air. Mutu bahan bakunys sama dengan kopi Toarco Toraja yang dijual di Jepang. Namun penggongsengannya lebih lama disesuaikan dengan selera konsumen di Indonesia.
Kini, dengan standar yang sebagian besar sudah baku, kita dengan mudah menemukan kopi Toraja berkualitas baik dimana saja. Bahkan, pemerintah daerah kini sedang mengembangkan lahan 1200 hektar untuk pengembangan kopi organic di Kecamatan Sesean dan Rindingallo di Toraja Utara. Di daerah lain, seperti Enrekang dan Pegunungan Latimojong, juga akan dikembangkan pula usaha serupa.

sumber: http://id.custom.yahoo.com/paling-indonesia/jalanjalan-kuliner-artikel/article-kopi-toraja-penuh-tradisi-211