Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Menghindari Stres Dalam Pernikahan

Pernikahan tentunya tidak pernah berjalan semulus kulit Jennifer Lopez. Selalu ada bumbu-bumbu pertikaian, problematika, dan serangkaian permasalahan yang menyertainya. Tak jarang diantaranya dapat menimbulkan stres dan depresi. Walaupun demikian, pernikahan tidaklah seseram itu, ada hal-hal yang setidaknya dapat diandalkan agar permasalahan yang terjadi tidak mengarah pada stress dan depresi. Berikut adalah sedikit hal yang bisa dilakukan.

1. Komunikasi
Jangan pernah menutup jalur komunikasi, bagaimanapun marahnya Anda pada pasangan. Menutup komunikasi adalah langkah pertama Anda dalam menghancurkan pernikahan. Selalu bicarakan pada pasangan apa yang Anda rasakan. Berikan ia kesempatan untuk mengerti perasaan Anda.

2. Jangan mengekang
Sudah berkeluarga bukan berarti Anda harus mengekang kegiatan pasangan. Biarkan ia memiliki hidupnya sendiri. Ketimbang mengekang, lebih baik membaurlah pada lingkungan pasangan. Mengenali lingkungan kerja, hobi dan sahabat pasangan akan membuat Anda lebih tenang.

3. Berkompromi
Dalam pernikahan, tak ada lagi “saya” atau “kamu”, yang ada hanya “kita”. Oleh karena itu, untuk segala hal, Anda juga harus berkompromi dengan pasangan. Jangan sampai timbul salah paham yang bikin hubungan Anda malah berantakan.

4. Saling menghargai
Dalam kondisi emosional seperti apa pun, jangan pernah merendahkan pasangan Anda. Perilaku saling merendahkan hanya akan membuat fondasi rumah tangga Anda hancur. Sebuah hubungan tak akan langgeng jika Anda dan pasangan tak lagi saling menghargai.

5. Membuat perencanaan keuangan
Banyak penelitian membuktikan, penyebab perceraian yang paling populer bukanlah perselingkuhan atau perbedaan nilai-nilai. Justru masalah keuanganlah penyebabnya. Untuk menghindari konflik karena masalah keuangan, bikinlah perencanaan yang jelas bersama pasangan. Yang paling utama, Anda dan pasangan harus saling jujur, termasuk dalam hal keuangan. Dengan begitu, konflik dapat dihindari.

Cinta Atau Harta??

R u really the one,,, ({}): Penting kah kaya itu ?
Seringkali kita mendengar pria lebih memilih untuk melajang lebih lama dengan alasan ekonomi. Lebih spesifiknya misalnya ingin punya rumah pribadi dulu, punya mobil dulu, punya gaji sekian juta atau beberpa ratus juta untuk sbuah pesta mewah pernikahan. Karenanya, sebelum mencapai tahap pernikahan, para pria bekerja ekstra keras mengumpulkan uang demi kemapanan. Ini tidak salah. Sudah slayaknya seseorang untuk memiliki kehidupan yang aman secara finansial saat berumah tangga & memberikan kenyamanan bagi sang istri. Tapi, pada saat kemapanan itu datang, ada situasi yang bisa menjebak para pria. Saat seorang pria sudah begitu kaya, maka hampir semua jenis wanita akan datang kepadanya menawarkan cinta. Tapi akhirnya semua berubah menjadi buram, apakah mereka datang karena cinta kepada si pria atau hanya mencintai uangnya saja. Sampai akhirnya sesuatu yang buruk bisa terjadi, hingga si pria menyesal kenapa bisa menjadi begitu kaya. Wanita mana yang tidak akan datang bila seorang pria begitu tampan,cerdas,kaya & muda? Semua ingin merasakan Jaguarnya, tidur di atas Tempur Pedicnya, tinggal di pent housenya & berdampingan dg pria berjas Kiton. Itu smua gambaran bahwa uang bisa saja memanipulasi perasaan & parahnya itu adl uangmu!

Bila saat ini para pria hanya memiliki mobil & seorang pacar, mereka tidak akan pernah tahu, apakah wanita ini akan masih mencintainya kalau suatu saat mereka hanya naik sepeda motor. Bagaimana kalau mereka tak lagi memiliki rumah pribadi yang mewah & hanya ada tempe di atas meja makan. Taukah mereka? Tdk. Karena bisa saja wanita-wanita itu datang hanya pada saat sang prianya bisa memberikannya kenyamanan2-kenyamanan finansial yg diidam2kan.
 
Cintakah yg dimiliki? Bukan! Mereka hanya memiliki wanita yang mencintai kenyamanan yang saat itu tersedia.
Beruntunglah bagi pasangan yang telah menikah & mereka berdua memulainya dari bawah. Mensyukuri mobil pertama mereka, karena mereka berdua pernah merasakan panas-hujan dengan sepeda motor atau berjalan kaki. Menyenangi spring bed baru mereka, karena mereka pernah tidur bersama di atas sebuah kasur busa kecil. Terharu dengan rumah pribadi mereka, karena dulu mereka pernah tinggal hanya disebuah kamar kost. Beruntunglah para pria yang memiliki wanita yang begitu mencintai mereka & mendampingi di saat-saat berjuang menuju kehidupan yg lebih baik.
Hari ini,, belajarlah untuk menghargai pasanganmu, tinggal pilih hargai hartanya atau hargai cintanya

Kamis, 05 Mei 2011

Memutuskan untuk Menikah

Bagi kita yang masih hidup dalam budaya konservatif ketimuran, pengikatan ikrar sehidup semati dalam jalinan pernikahan masih menjadi bagian dalam perjalanan hidup. Sebuah keputusan dalam berkomitmen ini bagi banyak orang merupakan salah satu pendewasaan dalam hidupnya. Beberapa diantara dan yang lainnya mungkin lebih berpikir mengenai kewajiban untuk berumah tangga dan /atau meneruskan silsilah keluarganya. Atau mungkin sebagian dari kita lebih fokus pada bayangan kegembiraan memeluk anak kita sendiri. Pada intinya momentum pernikahan  itu selalu menggambarkan kegembiraan antara sepasang umat manusia, laki-laki dan perempuan, dan mungkin antara sesama jenis di negara yang melegalkannya.

Namun tidak semua orang yang melangsungkan pernikahan kemudian dapat melihat impian-impian kebahagiaan itu terwujud. Banyak diantara kita yang kehidupan pernikahannya tidak seperti harapan, bahkan jauh dibawah harapan setiap orang. Kebahagiaan itu mungkin saja terhalang-halangi oleh permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi ketika sudah mulai menjalankan mahligai rumah tangga. Kehidupan rumah tangga yang penuh dengan tanggungjawab dan tuntutan kewajiban. Atau mungkin sebaliknya, bayangan akan kebahagiaan itu yang sebenarnya dari awal telah menutup-nutupi realitas yang akan mereka hadapi di kehidupan berumah tangga. Tak sedikit yang pada akhirnya berujung pada perceraian, sebuah keputusan untuk mengakhiri komitmen yang telah dibuat sebelumnya. 

Namun pernikahan itu pun bisa melahirkan sebuah rumah tangga dengan kebahagiaan sebagaimana yang telah diimpikan. Banyak diantara mereka yang menikah, pada akhirnya mampu mendapatkan kehangatan dan kenyamanan di kehidupan berumah tangganya. Mereka yang pada akhirnya mampu untuk menjalankan kewajibannya untuk berumah tangga, mereka yang pada akhirnya berhasil untuk meneruskan silsilah keluarga, dan mereka yang pada akhirnya gembira menyaksikan anak mereka tumbuh besar. Melihat pada mereka yang berhasil itu, nampak sebenarnya bahwa mimpi-mimpi yang diawali dari sebuah pernikahan itu bukanlah hal yang utopis, namun suatu hal realistis untuk dicapai.

Dua gambaran besar tersebut cukup bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari pada orang-orang disekitar kita. Bahkan mungkin di keluarga kita sendiri. Gambaran itu pun bisa mempengaruhi kita dalam bermimpi untuk menikah. Apakah kita akan menjadi orang yang melihat kebahagiaan di balik pernikahan, atau kita akan menjadi orang yang melihat pernikahan sebagai mimpi buruk. Ada beberapa hal yang mungkin perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menikah, tentunya setelah memiliki calonnya.

Tujuan Menikah
Sebelum menikah hendaknya perlu untuk dipikirkan dan mendapatkan jawabannya, apakah sebenarnya yang menjadi tujuan kita untuk menikah. Tujuan yang dimaksud itu tentunya adalah suatu hal yang sifatnya baik untuk kita sendiri. Seperti halnya tujuan-tujuan lain dalam hidup kita, bukanlah menjadi hal yang instan untuk dapat mencapainya, perlu cara-cara dan proses menuju kesana. Sama halnya pula dengan memikirkan tujuan untuk menikah, dengan telah mengetahui apa yang menjadi tujuannya, maka hampir secara otomatis, jika memang kita yakin menginginkan tujuan itu, setiap tindakan dan arah setiap cara kita adalah menuju ke sana. Proses yang terjadi tidak akan terlalu menjadi problema. Setiap kerikil yang menyandung akan dapat disingkirkan sat per satu. Cara untuk mencapai itu tentunya hanya kita sendiri yang dapat memikirkannya sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai dan seberapa kuat kita menginginkan tujuan itu.

Kenali Pasangan Lebih Dalam   
Kiat ini mungkin terdengar sangat klise di telinga kita. Dan mungkin sudah beberapa dari kita yang merasa telah menjalankannya mati-matian. Namun perlu diingat, bahwa mengenali di sini bukanlah hanya sekedar mengetahui. Namun yang menjadi pokok dalam pengenalan ini adalah seberapa jauh kita dapat menerima setiap kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Tentunya untuk dapat menerima, sebelumnya perlu diketahui segala sifat dan perilaku pasangan kita. 
Menerima perilaku pasangan yang kurang baik, atau bahkan buruk, di mata kita bukanlah hal yang mudah. Kesulitan yang utama biasanya terkendala dari tujuan yang ingin kita capai dari pernikahan. Kecenderungan yang terlalu fokus pada tujuan -- maksud tujuan di sini adalah tujuan yang terlalu egois, misalnya mencari istri yang dapat menjadi penunjang karir -- akan menjadikan kita terlalu perfeksionis dan pemilih, dan pada akhirnya akan kesulitan sendiri mencari pasangan.
Hal yang perlu disadari adalah, bahwa dalam diri setiap manusia itu ada kekurangan. Ketika kita melihat kekurangan pada pasangan kita, sadarilah juga bahwa kita memiliki kekurangan di mata pasangan kita. Bahwa dalam setiap satu kekurangan yang kita lihat, ada satu kekurangan dari kita juga yang dilihatnya. Sikap seperti itu pada akhirnya ada kecenderungan untuk kita bisa menerima jika dikritik pasangan dan bisa menerima setiap kekurangan dari pasangan. Kekurangan bukan berarti untuk dirubah, tapi perubahan itu perlu dilakukan setidaknya dari kita sendiri. Untuk mengetahui satu sama lain ada baiknya juga untuk membicarakannya.

Menyadari Konsekuensi yang akan Dihadapi dan Menyiapkan Diri
Sadarilah bahwa pernikahan itu selalu melibatkan dua belah pihak. Tak ada pernikahan yang berlangsung hanya dengan satu pihak. Dan pihak yang lainnya itu akan bersama kita seumur hidup kita. Ke depannya kita dan pasangan akan menjadi tim yang bersama-sama menjalankan tujuan hidup kita. Segala macam cita-cita dan tujuan kita akan menjadi cita-cita dan tujuan bersama. Segala macam resiko yang terjadi otomatis juga akan menjadi tanggungan bersama. Tak bisa kita kenali lagi ego kita sendiri, yang ada adalah ego bersama sebagai satu ego. Dan yang sangat diketahui oleh kita semua, keburukan pasangan kita akan kita lihat dan rasakan setiap saat, begitu juga sebaliknya, setiap keburukan kita akan nampak setiap saat di mata pasangan kita. 
Jika sudah mampu untuk menyadari itu semua, yang tinggal kita lakukan untuk mempersiapkan diri adalah bergantung pada dua hal sebelumnya, berpatok pada tujuan dan sikap kita dalam penerimaan setiap kekurangan dan kelebihan pasangan kita.

SELAMAT MENIKAH