Cari Blog Ini

Kamis, 05 Mei 2011

Mola-Mola

Mola Mola, demikian nama ikan ini lebih dikenal, atau Sun Fish. Ikan langka ini menjadi perburuan para penyelam dan photographer dari seluruh dunia. Beruntung,Indonesia tepatnya di Bali menjadi siklus penampakan jenis ikan ini.
Tidak tahu kenapa, ikan ini muncul di tempat yang sama setiap bulan Juli – September di sekitar Nusa Penida atau kadang Topekong, Candi Dasa.
Mola Mola dewasa bisa berbobot bisa satu ton dan diameternya 2 meter. Bentuk badannya aneh, hampir bulat dan tanpa ekor, dengan kedua sirip di atas bawah menjadi motor untuk bermanuver.
Mola Mola termasuk jenis pelagics yang hidup diperairan dalam, sampai sekitar maksimal 600 meter.

Ikan ini adalah jenis yang hidup di lautan tropis dan temperate – antara katulistiwa dan lingkar kutub. Ia hidup di temperature 10 derajat celcius ke atas.
Sifat lainnya adalah kebiasaan melakukan cleaning station di permukaan air. Ini merupakan cara ia mencari makan, dengan mengkonsumsi plankton dan sekaligus menghangatkan tubuhnya dengan sinar matahari.
Sebagian para ahli memprediksi ini cara mereka men’charge’ tubuhnya sebelum menyelam di kedalaman yang dingin. Karakteristik tubuh Mola Mola hampir seperti jelly fish – ubur ubur, namun demikian ia juga diburu untuk hidangan dan sebagai bahan obat obatan terutama masyarakat Jepang dan Taiwan. Di beberapa tempat seperti Eropa dan Amerika ikan ini termasuk jenis yang dilindungi dari kepunahan.
Hampir setiap tahun Bali dikunjungi penyelam dari seluruh dunia, hanya untuk melihat Mola mola. Ini menjadi atraksi penyelaman yang ditunggu tunggu. Mola mola seassion.
Sudahkan anda melihat Mola Mola ?
                                                                            
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kehancuran Hutan Menyebabkan Perubahan Iklim

Hutan tropis menyimpan karbon di tanah dan pepohonan. Seperti spons/busa, hutan tropis menyerap karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fossil sebagai sumber energi.
Kita membutuhkan hutan dengan luasan besar untuk 'meredam'  dan melawan perubahan iklim dan menjaga bumi. Tetapi yang terjadi kita melakukan sebaliknya. Kita Menghancurkan Hutan
Pengerusakan hutan menyumbang 20% dari emisi GRK setiap tahun. Dan lebih banyak lagi emisi yang dihasilkan dari seluruh dunia seperti dari mobil, truk, kereta, kapal dan pesawat di 2004.
Di Indonesia, hutan rawa gambut lenyap akibat pembalakan, pengeringan dan di bakar untuk perluasan kelapa sawit. Lahan gambu ini (kadang-kadang hinggakedalaman 12 meter) menyimpan karbon yang sangat besar. Ketika mereka di keringakn dan di bakar akan menjadi sebuah bom karbon, melepaskan hampir dua milliyar ton karbondioksida berbahaya setiap tahun.
Foto-foto ini menceritakan bagaimana perluasan kelapa sawit di Indonesia dapat menyumbang perubahan iklim :

Berkat pengundulan hutan dan lahan gambut, Indonesia menjadi negara pencemar polusi ketiga terbesar di dunia setelah Amerika dan Cina. Dari 85% emisi yang dihasilkan Indonesia, emisi bersumber dari penghancuran hutan dan konversi lahan gambut
Di Papua Nugini, sekita 83% dari hutan yang  dapat diolah secara kormesial lenyap atau menyusut pada tahun 2021 jika laju pembalakan terus dilakukan (1). Hutan tersisa di papua nugini menyimpan dua kali lipat emisi yang di hasilkan di seluruh yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil di tahun 2004. Penebangan hutan telah melepaskan emisi GRK dan berkontribusi meningkatkan GRK di atmosfir

Apa yang harus kita lakukan

Untuk menghentikan perubahan iklim. Pembalakan dan pengerusakan hutan di hentikan dengan tujuan penghentian pengerusakan hutan tropis duni pada tahun 2015