Cari Blog Ini

Kamis, 05 Mei 2011

Kehancuran Hutan Menyebabkan Perubahan Iklim

Hutan tropis menyimpan karbon di tanah dan pepohonan. Seperti spons/busa, hutan tropis menyerap karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fossil sebagai sumber energi.
Kita membutuhkan hutan dengan luasan besar untuk 'meredam'  dan melawan perubahan iklim dan menjaga bumi. Tetapi yang terjadi kita melakukan sebaliknya. Kita Menghancurkan Hutan
Pengerusakan hutan menyumbang 20% dari emisi GRK setiap tahun. Dan lebih banyak lagi emisi yang dihasilkan dari seluruh dunia seperti dari mobil, truk, kereta, kapal dan pesawat di 2004.
Di Indonesia, hutan rawa gambut lenyap akibat pembalakan, pengeringan dan di bakar untuk perluasan kelapa sawit. Lahan gambu ini (kadang-kadang hinggakedalaman 12 meter) menyimpan karbon yang sangat besar. Ketika mereka di keringakn dan di bakar akan menjadi sebuah bom karbon, melepaskan hampir dua milliyar ton karbondioksida berbahaya setiap tahun.
Foto-foto ini menceritakan bagaimana perluasan kelapa sawit di Indonesia dapat menyumbang perubahan iklim :

Berkat pengundulan hutan dan lahan gambut, Indonesia menjadi negara pencemar polusi ketiga terbesar di dunia setelah Amerika dan Cina. Dari 85% emisi yang dihasilkan Indonesia, emisi bersumber dari penghancuran hutan dan konversi lahan gambut
Di Papua Nugini, sekita 83% dari hutan yang  dapat diolah secara kormesial lenyap atau menyusut pada tahun 2021 jika laju pembalakan terus dilakukan (1). Hutan tersisa di papua nugini menyimpan dua kali lipat emisi yang di hasilkan di seluruh yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil di tahun 2004. Penebangan hutan telah melepaskan emisi GRK dan berkontribusi meningkatkan GRK di atmosfir

Apa yang harus kita lakukan

Untuk menghentikan perubahan iklim. Pembalakan dan pengerusakan hutan di hentikan dengan tujuan penghentian pengerusakan hutan tropis duni pada tahun 2015

Terumbu Karang

Terumbu karang ( Coral Reef ) merupakan salah satu pemasok sumber hayati yang luar biasa besarnya bagi kehidupan umat manusia. Ia memiliki nilai ekonomis selain menjadi penyangga ekosistem di muka bumi ini.
Indonesia memiliki seperempat dari total luas terumbu karang di wilayah Coral Triangle yang meliputi Philipina, Malaysia, Papua Nuigini, Kepulauan Salomon, Timor Leste sampai Australia.
Kini terumbu karang dunia menghadapi ancaman kerusakan dan kepunahan yang luar biasa.
Diperkirakan tahun 2050 terumbu karang dunia akan punah kalau tidak dilakukan usaha nyata untuk menghentikan proses ini. Selain kenaikan suhu laut akibat perubahan iklim. Penangkapan ikan dengan bom dan potas serta pencemaran mempercepat kerusakan ini.
Ada beberapa alasan mengapa kita harus peduli dengan terumbu karang.
Pertama, Terumbu karang menghasilkan plankton dan sumber makanan bagi ikan ikan dan mahluk laut. Ia menjadi rumah dan shelter perlindungan. Tanpa terumbu karang , maka tak ada ikan ikan. Ini berkaitan dengan nilai ekonomis manusia yang hidup dan bergantung dengan laut, seperti nelayan, usaha perikanan serta industri pariwisata.
Nilai ekonomis yang dihasilkan bisa setara US $ 375 milyar dari ikan atau pariwisata.
Kedua. Terumbu karang menjadi sumber penelitian untuk bidang kesehatan dan obat obatan. Banyak obat obatan yang dikembangkan dari organisme yang hidup di koral
Ketiga. Terumbu karang atau koral menjadi penyangga ekosistem laut. Kalau kehidupan ini punah, maka biota laut juga punah yang pada akhirnya berpengaruh pada keseimbangan ekosistem.
Keempat. Terumbu karang merupakan benteng pelindung alami dari gelombang laut dan ombak. Ini sekaligus melidungi abrasi dan pagar depan halaman kita.
Coral Triangle terbentang seluas 5.7 kilometer persegi, dan lebih dari 75 % koral dunia terletak di wilayah ini, selain 3000 species hidup . Tak kurang 130 juta manusia tergantung dan memetik manfaat dari Coral Triangle.